Google+

Tiga Kesalahan Wawancara (1): Tidak Mengenali Diri Sendiri

Leave a comment

April 8, 2013 by theyanirma

Mari bicara tentang the calling. Apa motivasi Anda mencari pekerjaan? Rata-rata, jawabannya yaitu memenuhi kebutuhan hidup, mencari uang, hidup mandiri, menafkahi keluarga, mencari modal wirausaha, memperluas jejaring, gengsi, mencari pengalaman, dll. Ada berbagai alasan untuk bekerja. Tidak ada alasan yang salah atau benar. Yang terpenting adalah Anda memiliki motivasi sehingga pekerjaan Anda berarti. Saat wawancara, “Apa motivasi Anda di dalam mencari pekerjaan?” adalah pertanyaan yang umum. Untuk menjawabnya, motivasi Anda tadi harus dikemas secara apik.
Satu hal yang sering dilupakan oleh pelamar kerja adalah menemukan diri mereka sendiri. Mencari Anda. Coba tanyakan kepada diri Anda sendiri tentang apa yang sebenarnya Anda inginkan sehingga tidak sembarangan tergiur dengan lowongan pekerjaan. Ini adalah hal yang penting agar Anda tidak membuang-buang waktu Anda untuk melamar sekaligus menghemat waktu si pewawancara untuk bertemu dengan pelamar yang belum tahu apa yang ia cari.

Misalnya, Anda sebenarnya ingin melanjutkan ke jenjang S2 tetapi gagal. Sebagai “pelampiasan”, Anda pun melamar kerja. Pada saat wawancara, usahakan jangan sampai pewawancara melihat demotivasi dalam diri Anda. Mengatakan, “Sebenarnya, saya ingin S2 namun gagal oleh karena itu saya mencari pekerjaan,” kepada pewawancara adalah upaya bunuh diri yang akan menggagalkan Anda. Be smart, watch your words, jangan membuat kegagalan di satu bidang akan menjadi bahan bakar kegagalan di bidang yang lain.

Mengenali diri sendiri adalah konsep yang penting, tampaknya mudah tetapi sulit untuk dijalankan. Ini berhubungan erat dengan kesalahan nomor satu yang sering membuat para pencari kerja gagal di tahap tes wawancara. Seorang manajer HRD yang telah berkarier bertahun-tahun di perusahaan ternama menyebutkan bahwa delapan dari sepuluh pencari kerja yang pernah ia temui tidak mengetahui job description pekerjaan yang dilamar. Ada suatu cerita di mana manajer HRD tersebut mewawancarai seorang pelamar kerja, sebut saja namanya X. Curriculum vitae-nya amat menjanjikan sehingga membuat ekspektasi sang pewawancara melambung tinggi. Singkat cerita, pewawancara bertanya, “Sudahkah kamu membaca mengenai pekerjaan yang ditawarkan?” “Sudah,” jawab pelamar secara singkat dan mantap. Sang pewawancara pun tertarik untuk bertanya lebih lanjut, “Can you tell me about the job?” Sayangnya, sang pelamar justru merespon, “Errr…” Ruangan pun sunyi senyap. Kandas sudah harapan pewawancara untuk mendapatkan pelamar kerja yang diharapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Lokasi & Jam Layanan

+62 (0)22 - 2509177
Buka: 9.00 - 16.00
Istirahat: 12.00 - 13.00
%d bloggers like this: